BERFIKIR KRITIS DAN
ILMIAH DITENGAH ISU KESURUPAN MASAL
Tulisan ini bukan merupakan bentuk
provokatif namun bentuk pencerahan untuk anak-anakku MAN 6 tercinta. Fenomena
yang disebut banyak orang sebagai kesurupan, sering dikaitkan dengan dunia
gaib, seperti setan atau jin. Pola pikir semacam ini terbentuk secara kultural,
semisal kesenian “kuda lumping” secara sengaja pemain kuda lumping memakan bara
api. Jika, itu dilakukan dalam kondisi sadar, tidak akan mungkin terjadi. Maka
pemain kuda lumping wajib kesurupan terlebih dahulu, dari realitas ini dapat di
asumsikan sebagai bentuk kesurupan yang disengaja.
Negara berkembang
seperti Indonesia atau India, masih banyak di jumpai tradisi-tradisi serupa
yang terkait dengan mistifikasi, sakralisasi dan mitologisasi. Seperti kuda
lumping, jika ditinjau dari pola pikir sebagian masyarakat kita seperti ini.
Memang tidak lepas dari transisi masyarakat agraris menjadi masyarakat
industri, yang seharusnya lepas dari hal magis atau mitos.
Di zaman yang lekat dengan teknologi
tinggi masih dijumpai orang atau kelompok yang masih mempertahankan
kekuasaannya melalui hal-hal kelenik untuk kepentingan pragmatis. Kepentingan
segelintir orang atau kelompok tertentu untuk melegitimasi kekuasaanya.
Berangkat dari pemahaman bahwa sebagian masyarakat yang masih dibayang-bayangi
dengan hal-hal mistis, setidaknya ada pendekatan kristis untuk mendekonstruksi
tentang pola pikir mistifikasi, sakralisasi dan mitologisasi. Fenomena
kesurupan yang terjadi di lingkungan pendidikan tuntu tidak seharusnya
diarahkan terhadap hal yang bersifat mistis. Ketakutan dan kekalutan yang
muncul seharusnya di minimalisir, untuk menghindarkan kita terjurumus dari
kesyirikan.
Pendekatan ilmiah
terhadap fenomena kesurupan yakni, pertama tentang konsep multiple
personality disorder (MPD) atau kepribadian ganda, ialah suatu keadaan di
mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain
(sumber: wikipedia).
Bisa dikatakan sebagai salah satu penyakit kelainan kejiwaan. Biasanya
penderita memiliki kepribadian dua atau lebih, contoh seperti, pada saat
ini penderita bertingkah seperti anak kecil manja suka menangis, namun tiba –
tiba berubah menjadi orang lain yang pemarah.
Namun pada abad 20-an MPD berkembang menjadi
DID (dissociative identity disorder) atau kepribadian ganda dapat
didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan
menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing
memiliki nama dan karakter yang berbeda.
Mereka yang memiliki
kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si
penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara
berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan
yang berbeda-beda. Atau dengan kata lain mereka memiliki dunia lain (baca:
berimajinasi). Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para
psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma
masa kecil.
Untuk memahami bagaimana
banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu
kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi). Contoh Pernahkah
kalian mendapatkan pengalaman seperti ini: Ketika sedang bertanya mengenai
sesuatu hal kepada sahabat kalian, kalian malah mendapatkan jawaban yang tidak
berhubungan sama sekali. Jika pernah, maka saya yakin, ketika mendapatkan
jawaban itu, kalian akan berkata "Nggak nyambung!".
Disosiasi secara
sederhana dapat diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran,
perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang
berlangsung. Dalam kasus DID, juga terjadi disosiasi, namun jauh lebih rumit
dibanding sekedar "nggak nyambung".
Dari pendekatan
psikologis diatas tentang diasosi seseorang, merupakan awal dari fenomena
kesurupan atau possession. Lebih sering kita menyebut trance
atau kesurupan tanpa disadari. Analoginya seperti ini, seseorang yang mengalami
DID atau MPD (berkepribadian ganda) ketika dianggap kesurupan, maka ketika ada
orang lain yang potensial tersugesti, kemungkinan akan mengalami hal serupa.
Bentuk sugesti ini muncul dari pribadi yang mudah mengimitasi,
mengidentifikasi, berempati hingga tersugesti dengan perilaku orang lain yang
dilihat dan dirasakan olehnya.
Jika pendekatan
diatas kita gunakan pada fenomena di SMAN 2 Pasuruan tanggal 29 september
kemarin. Pertama, munculnya seorang pemicu dalam hal ini yang memulai
atau dengan kata lain seseorang yang pertama kali terkategori MPD atau DID
(baca : kepribadian ganda), mengalami “kesurupan” dalam pemahaman banyak orang
awam atau dengan kata lain pemicu mengalami kesurupan individual.
Kemudian kedua, korban
yakni mereka yang secara tidak sadar telah tersugesti dengan si pemicu.
Prosesnya yakni ketika dia milihat si pemicu terkena kesurupan kemudian
perasaannya seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya. Ini yang dinamakan
empati, kemudian perasaan itu berkembang menjadi sugesti dalam alam
bawah sadarnya. Sehingga, si korban bisa juga mengalami perilaku yang bukan merupakan
identitas dirinya. Dikatakan kesurupan masal ketika korban dan pemicu
sengaja atau tidak telah mensugesti orang lain sehingga muncul korban baru.
Logika sederhanannya,
ketika ada satu orang yang muntah melihat cacing atau kecoa yang menggelikan
atau menjijikan, secara tidak sadar dia berimajinasi. Imajinasi yang muncul
yakni dalam bentuk ketakutan misal, takut jika kecoanya akan terbang, masuk
baju, dan bau diseluruh badannya, atau membayangkan got yang jorok tempat kecoa
itu tinggal. Secara otomotis ketakutan itu berubah menjadi muntah sebagai
bentuk reaksi atau refleksi bawah sadarnya. Sedangkan orang lain yang melihat
temannya muntah bisa jadi tersugesti muntah.
Logika sederhana
diatas cukup bisa memberikan penjelasan bahwa ketika seseorang berimajinasi
dalam bentuk melamun, takut, atau binggung. Merekalah sebagai objek dari korban
sugesti (baca : kesurupan). Ditambah dengan keaadaan lingkungan yang mengalami
kepanikan (histeria massa), sehingga suasaana seolah semakin mistis (dalam
fenomena kesurupan).
Dari jumlah yang ada,
sebagian besar adalah perempuan yang menjadi korban. Hal ini menunjukkan
perempuan lebih sugestible atau lebih mudah dipengaruhi dibandingkan
laki-laki. Mereka yang memunyai kepribadian histerikal yang salah satu cirinya sugestible
lebih berisiko untuk kesurupan atau juga menjadi korban kejahatan hipnotis.
Selain itu, wanita lebih labil ketimbang pria dan terjadi perubahan dalam
jiwanya. Banyak hal bisa menjadi penyebabnya. Antara lain kondisi keluarga,
kondisi sekolah, hubungan pertemanan, sosial politik, dan masih banyak lagi.
Gejala-gejala yang dianggap kesurupan
Gejala-gejala
beberapa waktu sebelum kesurupan antara lain kepala terasa berat, badan dan
kedua kaki lemas, penglihatan kabur, badan terasa ringan, dan ngantuk.
Perubahan ini biasanya masih disadari oleh subjek, tetapi setelah itu ia
tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya. Melakukan sesuatu di luar
kemampuan dan beberapa di antaranya merasakan seperti ada kekuatan di luar yang
mengendalikan dirinya.
Mereka yang mengalami
kesurupan merasakan bahwa dirinya bukanlah dirinya lagi, tetapi ada suatu
kekuatan yang mengendalikan dari luar. Keadaan saat kesurupan ada yang
menyadari sepenuhnya, ada yang menyadari sebagian, dan ada pula yang tidak
menyadari sama sekali. Dalam keadaan kesurupan korban melakukan gerakan-gerakan
yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental, dan tercetus dengan
bebas. Saat itu merupakan kesempatan untuk mengekspresikan hal-hal yang
terpendam melalui jeritan, teriakan, gerakan menari seperti keadaan hipnotis
diri. Setelah itu, fisik mereka dirasa lelah tetapi, mental mereka mendapat
kepuasan hebat.
Fenomena kesurupan massal dapat dijelaskan
dengan kondisi ini. Seseorang yang melihat temannya dalam keadaan histeris,
meronta-ronta, berteriak-teriak tanpa terkendali sering dapat mensugesti
temannya. Berikut ini beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya
sugesti.
Pertama, sugesti secara visual (penglihatan), Seseorang yang memiliki tipe visual, dengan tingkat
sugestivitas emosional dan fisiknya cukup tinggi, akan sangat mudah dipicu
dengan gerakan-gerakan yang ia lihat ketika melihat orang lain dalam keadaan
”kesurupan”. Biasanya, sugestivitas emosional dimiliki oleh kaum perempuan, karena perempuan lebih banyak menggunakan penglihatannya
(terutama bagi yang suka memperhatikan penampilan). Hal itulah yang menyebabkan
kesurupan seperti dapat “menjalar” dari satu orang ke orang yang lain. Dengan
demikian, terjadilah ”kesurupan massal”.
Kedua,
sugesti secara audio (pendengaran), Seseorang yang memiliki tipe audio, dengan tingkat
sugestivitasnya tinggi, akan terpicu dengan suara. Pada saat ia mendengar orang
lain histeris, berteriak-teriak, dan marah-marah, orang tersebut akan tersugesti
dengan mudah. Akibatnya, secara spontanitas,
ia langsung mengikuti temannya seperti berteriak-teriak, histeris, marah-marah,
dan lain-lain.
Ketiga, sugesti secara kinesthetic (perasaan). Seseorang yang memiliki tipe kinestetik, dengan tingkat
sugestivitasnya tinggi, akan tersugesti
dengan perasaan yang timbul pada dirinya. Ketika seorang temannya terlihat
histeris dan berteriak-teriak, timbullah rasa kasihan, simpati, dan bahkan
empati. Akibatnya, tanpa sadar, ia telah memasuki level kesadaran Alpha atau Theta (bawah sadar) secara spontan.
Sebenarnya, semuanya ini tidak lepas
dari konflik internal pada diri seseorang yang dapat terjadi kapan saja, yaitu ketika pikiran dan
kondisi kejiwaan dalam keadaan labil, tidak tenang, bermasalah, dan semacamnya.
Jika ditinjau, sebenarnya fenomena kesurupan bermula dari sebuah konflik
internal seseorang yang belum pernah terselesaikan. Makin lama, konflik
tersebut semakin terpendam di level pikiran bawah sadar hingga suatu waktu
(pada saat yang tepat), permasalahan yang terpendam tersebut muncul secara
tiba-tiba bagaikan bom waktu.
Hal itu menyebabkan emosi-emosi yang
berkaitan dengan permasalahan yang ada juga muncul secara bersamaan (abreaction).
Dalam kasus kesurupan, ada berbagai faktor yang menjadi pencetus terjadinya
kesurupan. Sebagai contoh, bagi siswa sekolah, faktor tersebut misal jam pelajaran yang semakin diperketat, hubungan antara guru dan murid yang kurang harmonis, tugas dan pekerjaan rumah yang semakin banyak dan semakin
memusingkan, atau sering terlambat sekolah kemudian
dihukum dan mengalami traumatis.
Permasalahan itu dapat menjadi pencetus
konflik-konflik yang terjadi dalam diri seorang siswa. Jadi, tak heran jika
kesurupan massal sering terjadi di lingkungan sekolah.
Anak-anakku semuanya marilah kita berfikir kritis dan Ilmiah bahwa yang terjadi
pada kita kemarin merupakan pelajaran berharga. Yakni terhadap cara pandang
kita terhadap fenomena kesurupan, jangan terbawah dengan cerita-cerita tahayul
atau mitos-mitos yang terkait dengan dunia gaib. Sebagai orang beriman, Allah
SWT telah menjelaskan Jin
dan setan adalah salah satu dari makhluk Allah dan manusia juga merupakan salah
satu dari makhluk Allah. Lantas, mengapa kita harus takut kepadanya? Bukankah
kita sama-sama makhluk? Bahkan, sebenarnya, manusia itu lebih tinggi
kedudukannya dibandingkan jin dan setan.
Allah berfirman:“Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan. ” (QS. Al-Isra:70)
Mulai hari ini
hilangkan mistifikasi, sakralisasi dan mitologisasi. Berfikirlah secara kritis
dan ilmiah dengan berbekal Iman dan Islammu.
(Sumber: http.sosiologi SMADA Pasuruan)
Terima kasih....membuka wawasan ilmiah
BalasHapus